Kelas Memasak, Ruang Belajar Orang Tua Memanfaatkan Pangan Lokal

SOPAN Sumba
Kelas Memasak, Ruang Belajar Orang Tua Memanfaatkan Pangan Lokal

Dari bahan pangan yang tumbuh dan tersedia di sekitar desa, kami kembali belajar bahwa makanan bergizi untuk anak tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang mahal atau sulit dijangkau.

Di dapur-dapur rumah, di kebun, di pasar, dan di lingkungan sekitar, sebenarnya terdapat berbagai bahan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, khususnya bagi anak-anak pada masa pertumbuhan. Namun, ketersediaan bahan pangan saja belum tentu cukup. Masih ada tantangan tentang bagaimana bahan tersebut dikenali kandungan gizinya, dipilih, diolah, dan disajikan menjadi makanan yang menarik bagi anak.

Berangkat dari kesadaran itulah, Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) Sumba, melalui dukungan YKPAI–MCC, melaksanakan Kelas Memasak Satu Hari untuk Orang Tua Balita di dua desa dampingan, yakni Desa Napu, Kecamatan Haharu, dan Desa Kuta, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur.

Kegiatan pertama dilaksanakan pada 13 Agustus 2026 di Posyandu Napu, yang melibatkan dua posyandu. Selanjutnya, kegiatan serupa dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 di posyandu Rinju Anya Badi, yang melibatkan empat posyandu.

Kelas memasak ini menjadi ruang belajar bersama bagi orang tua balita dan keluarga yang memiliki anak dengan kondisi kurang gizi. Para peserta yang datang untuk menyaksikan proses memasak, juga terlibat dalam seluruh proses pembelajaran. Bersama kader Posyandu yang menjadi fasilitator, peserta diajak mengenal kembali bahan-bahan pangan lokal yang ada di sekitar mereka dan memahami manfaat serta kandungan gizinya bagi pertumbuhan anak.

Satu per satu bahan pangan diperkenalkan. Peserta berdiskusi. Pertanyaan muncul. Pengalaman dibagikan. Kemudian, proses memasak dimulai.

Melalui proses tersebut, para orang tua belajar bahwa pengolahan makanan untuk anak, cara mengolah, memadukan bahan, memperkenalkan tekstur dan rasa, hingga menyajikannya dengan cara yang menarik juga menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan makan anak.

Bagi anak-anak pada usia pertumbuhan, makanan yang bergizi sangat penting. Pada masa ini, tubuh dan otak sedang berkembang dengan pesat. Karena itu, kebutuhan gizi tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan makanan yang tersedia di meja, tetapi juga tentang pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam memastikan anak memperoleh asupan yang beragam dan seimbang.

Kami percaya bahwa pencegahan stunting, salah satunya, dapat dimulai dari dapur rumah. Di dapur, orang tua mengambil banyak keputusan penting. Apa yang akan dimasak hari ini? Bahan pangan apa yang tersedia? Bagaimana cara mengolahnya? Apakah anak mau memakannya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tumbuh kembang anak.

Melalui Kelas Memasak Satu Hari ini, SOPAN Sumba ingin mendorong agar orang tua semakin percaya diri memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Bahan pangan yang tersedia di sekitar, sebagai bahan masakan sehari-hari, bisa diolah secara kreatif menjadi makanan bergizi untuk anak.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader Posyandu dan kader pemberdayaan masyarakat sebagai agen perubahan di tingkat desa. Kader yang sebelumnya telah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, kemudian mengambil peran untuk berbagi dan mendampingi masyarakat.

Pendekatan seperti ini penting karena pengetahuan tidak berhenti pada satu orang atau satu kelompok. Ia dapat bergerak dan menyebar melalui proses belajar bersama. Misalnya dari kader kepada orang tua. Dari orang tua kepada keluarga. Dari keluarga, perubahan dapat dimulai.

Di Napu dan Kuta, kegiatan memasak bersama ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran partisipatif. Tidak ada sekadar posisi “yang tahu” dan “yang tidak tahu”. Ada ruang untuk bertanya, berbagi pengalaman, mencoba, dan belajar bersama. Orang tua juga memiliki pengalaman serta pengetahuan mereka sendiri dalam mengasuh dan memberi makan anak. Ruang belajar ini kemudian menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan tersebut dengan informasi dan keterampilan baru.

Harapannya, apa yang dipelajari selama kegiatan tidak berhenti ketika kelas memasak selesai. Resep dan cara pengolahan yang diperkenalkan dapat dicoba kembali di rumah. Bahan pangan lokal dapat semakin dimanfaatkan. Orang tua dapat terus mencari cara-cara kreatif untuk menyajikan makanan bergizi. Dan yang paling penting, tumbuh kesadaran bahwa upaya mencegah stunting adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan peran keluarga, kader, masyarakat, dan pemerintah desa.

Bagikan:

Artikel terkait