Rambu Hoy Mila Meha: Hidup Menjanda, Sekolahkan Anak Sampai Sarjana

Tulisan ini disadur ulang dari buku Perempuan (Tidak) Biasa, karya Martha Hebi
Mayoritas adat perkawinan di Indonesia menganut hukum patriarkhi. Seorang perempuan dibeli(s) dan menjadi milik keluarga laki-laki.
Seperti halnya dalam tradisi Sumba, seorang perempuan yang telah dibelis (dibayar mahar atau mas kawin-nya) akan pindah ke kabihu atau klan/marga suami. Jika suami meninggal dunia, sang istri tetap tinggal dalam keluarga besar suami. Ia tidak bisa kembali ke kabihu-nya. Sebab ia telah menjadi hak keluarga laki-laki.
Posisi sebagai janda membuatnya bisa diambil sebagai istri (lagi) oleh saudara atau keluarga dekat suaminya, baik sebagai istri pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ibarat barang yang telah dibeli, sang perempuan tidak punya hak menentukan tujuan atau pilihan hidupnya. Termasuk akan menikah dengan siapa (lagi). Sebab ia telah “dibeli” melalui pembayaran belis dengan hewan-ternak dalam jumlah tertentu. Ia bisa “dipergunakan” secara bebas oleh yang “membeli”.
Karena itu, perkawinan lanjutan ini biasanya tidak melalui prosesi adat seperti pada umumnya. Dan seringkali tidak disertai oleh rasa saling cinta.
Perkawinan lanjutan tersebut didaku sebagai bentuk tanggung jawab keluarga suami. Selain karena ketergantungan ekonomi, keluarga laki-laki merasa perlu melindungi perempuan dan anak-anak, jika pada perkawinan pertama mereka memiliki keturunan. Pada masa lampau, juga dalam beberapa kasus saat ini, sistem perkawinan seperti ini ibarat “asuransi sosial” yang memberi rasa aman.
Tradisi ini masih hidup sampai kini pada hampir semua suku di Sumba. Namun sejak dulu, banyak pula perempuan yang menentangnya. Mereka gelisah pada perlakukan terhadap perempuan yang disamakan dengan barang. Dalam hal ini, pengaruh Gereja Katolik dan Protestan di Sumba yang mengedepankan perkawinan monogami, sangat signifikan.
Rambu Hoy Mila Meha (79 tahun) adalah salah satu perempuan yang menolak menjalani kawin lagi dalam tradisi ini. Dia memilih tetap hidup menjanda sejak suaminya meninggal pada tahun 1981. Alasan utamanya adalah demi mendidik sendiri kedelapan orang anaknya. Mama Rambu Hoy, begitu sapaan manisnya, dikenal teguh dengan prinsipnya dan sangat keras dalam tindakan disiplin. Setidaknya itu kesaksian tetangga dan keluarga besarnya.
Dijuluki Sodom dan Gomora
Entah bagaimana Mama Rambu Hoy dijuluki “Sodom dan Gomora” oleh para tetangganya di Kampung Wara, Waingapu, di mana mereka tinggal. Tetapi barangkali karena mereka melihat dan mendengar sendiri ia mendidik anak-anaknya secara spartan dan keras. Dalam Alkitab, kisah Sodom dan Gomora menggambarkan murka Allah terhadap orang-orang se-kota yang memperkosa para utusan-Nya yang ingin mempertobatkan mereka. Allah menurunkan api yang menghanguskan seluruh kota. Oleh Kitab Perjanjian Lama, Allah kerap digambarkan begitu penuh amarah, angker dan maha penghukum. Begitu Alkitab mencatatnya.
Tentu bisa dimaklumi jika Mama Rambu Hoy dijuluki Sodom dan Gomora. Mengurus delapan orang anak, ditambah sejumlah anak keluarga dari kampung yang dititipkan kepada mereka untuk disekolahkan, bukan perkara gampang bagi seorang ibu. Maka Mama Rambu Hoy ibarat komandan yang mengatur dengan tongkat, perintah dan teriakan. Penuh disiplin! Harus ada punishment bagi yang melanggar. Dan reward untuk yang patuh.
“Barangkali karena sangat keras mendidik anak jadi saya dijuluki Sodom dan Gomora. Saya bilang sama dorang, baik sudah kamu yang menempati tanah surgawi,” ujarnya sembari tertawa lepas. “Tanah surgawi” adalah kiasan untuk kondisi yang tenang dan nyaman, yang hanya membutuhkan sedikit perjuangan.
Mama Rambu Hoy mengakui, dirinya memang mendidik anak-anaknya dengan sangat keras, terutama semenjak suaminya Umbu Yabu Anggung Praing meninggal dunia pada 7 September 1981. Sejak itu perekonomian keluarga harus diputar olehnya. Jika selama sang suami hidup mereka dicukupi oleh gaji bulanan, sebaliknya ketika telah meninggal pensiun yang tak seberapa tidak bisa mengkover seluruh kebutuhan hidup.
“Saya menerapkan disiplin yang keras kepada anak-anak. Apalagi yang menyangkut pendidikan dan kemandirian,” ujarnya.
Perempuan yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini (hanya sampai kelas 5 SR) sangat yakin hanya pendidikan yang bisa menolong anak-anaknya keluar dari kondisi terpuruk itu. Atas dasar keyakinan inilah, bermodalkan pensiunan suaminya sebesar Rp 43.300, Mama Rambu Hoy mendesain manajemen keluarganya dengan rapi. Pengeluaran dihitung cermat. Rupiah demi rupiah.
Ketika suaminya meninggal, baru Margaretha A. Praing, anak pertama, yang tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan telah mengajar. Sementara anak kedua baru duduk di kelas 3 SPG, anak ketiga kelas 2 SMA, anak keempat kelas 1 SMA, anak kelima kelas 1 SMP, anak keenam kelas 5 SD, anak ketujuh masih TK dan yang bungsu baru berumur 3 tahun.
Dapur, Tempat Mendidik
Dalam rumah tradisonal orang Sumba (rumah panggung), perapian (dapur) terletak di bagian tengah rumah. Tempat ini menjadi wilayah “kekuasaan” perempuan. Di sini aktivitas memasak dan bercakap-cakap dengan anggota keluarga bisa dilakukan dengan santai. Biasanya para perempuan Sumba secara tidak sengaja telah menjadikan dapur sebagai “media” yang menghubungkan sesama anggota keluarga, termasuk antara anak-anak dan orang tua. Dari tempat inilah para ibu menasihati anak-anak mereka, terutama anak perempuan, sambil mengolah makanan. Dapur menjadi sentral di mana pendidikan informal berupa nasihat diberikan.
Meskipun rumah mereka bukan rumah panggung, namun fungsi dapur bagi Mama Rambu Hoy tidak berubah. Dapur tetap menjadi sentral pendidikan informal, selain menjadi pusat mengolah makanan bagi seluruh penghuni rumah. Ketika beraktivitas di dapur inilah anak-anaknya berkumpul. Dari dapur pula bisnis hari ini ditentukan.
“Pagi jam tiga anak-anak sudah bangun. Kecuali yang masih kecil-kecil. Kami kumpul di tungku (dapur) sudah. Bagi kerja. Semua sudah tahu tugasnya masing-masing. Saya atur siapa saja yang jual taoge hari itu,” tutur Mama Rambu Hoy. Berjualan taoge sudah dilakukan sebelum sang suami meninggal.
Anak perempuan bertugas membersihkan taoge. Hanis (Yohanis Anggung Praing) dan Kris (Kristofel Anggung Praing) bertugas menjual. Tiga kumpul taoge Rp 25. Satu kumpul kira-kira segenggaman orang dewasa banyaknya. Gara-gara taoge ini Mama Rambu Hoy pernah memarahi Kris habis-habisan. Jualan Kris tidak habis hari itu.
“Ai... kalau saya ingat kembali, saya kasihan lagi. Saya pukul saya punya anak, (padahal) dia masih kecil waktu itu. Saya suruh pulang kembali untuk jual kasih habis itu taoge. Saya bilang, hidup ini tidak ada yang enak. Semua harus usaha. Saya tidak akan hidup terus. Bagaimana kalau saya mati, siapa yang urus kalian, kata saya. Jadi dia punya kakak perempuan sudah yang bantu dia untuk jual kasih habis,” kenang Mama Rambu Hoy.
Sementara Kris bingung cara menjual taoge yang ternyata hanya lima kumpul. Oleh kakak perempuannya, Kris dibantu mengatur kembali taogenya sehingga menjadi enam kumpul. Akhirnya laku. Kris pulang membawa uang Rp 50.
Dapur juga menjadi tempat menyampaikan petuah ketika anak-anak akan melanjutkan studi ke luar Sumba. Mama Rambu Hoy memanggil mereka semua ke perapian. Di tempat “keramat” ini, Mama Rambu Hoy menasihati anak-anaknya dengan air mata bercucuran.
Satu hal yang ia tekankan: Sekolah dengan baik! Ia minta anak-anaknya melihat kondisi keluarga mereka yang serba terbatas. Tanpa ayah dan hidup dari uang pensiun. Mereka berjualan taoge untuk bisa menambal kebutuhan sehari-hari.
Semua anak sudah tahu bahwa sehari atau dua hari sebelum saudara mereka berangkat melanjutan studi, ada prosesi di tempat “keramat” ini. Hanya saja tetangga tidak tahu bahwa Mama Rambu Hoy bisa juga menangis. Mereka hanya melihatnya sebagai seorang perempuan yang keras, disiplin dan irit air mata.
Tahun 1982 Yohanis Praing, atau biasa disapa Umbu Hanis, anak ketiganya berangkat ke Malang untuk melanjutkan studi. Selain ongkos pesawat, hanya ada Rp 150 ribu di tangan. Untuk mendaftar dan membayar uang muka SPP.
“Memang berkat Tuhan. Saya bingung bagaimana dia bisa pergi. Tapi Umbu Hanis nekat. Dia bilang, dia harus jalan. Saya iring dia dengan air mata. Dan Tuhan kasih jalan mulus. Ada yang bantu dia. Ada ibu yang jemput dan urus tempat tinggalnya. Kami tidak tahu siapa dia. Umbu Hanis lulus (masuk) di pertanian. Selang beberapa minggu, dia kirim telegram lagi bahwa dia lulus di Kedokteran Hewan di Udayana Bali. Perguruan tinggi negeri. Saya menangis betul-betul karena gembira. Tuhan begitu baik sama saya dan anak-anak,” ujar Mama Rambu Hoy menahan haru.
Bisnis Apa Saja
Bermodalkan pensiun suaminya, Mama Rambu Hoy mulai mengembangkan bisnis lain, yakni kain tenun. Dia membeli benang-benang dan menyewa kerabatnya untuk menenun. Dari hasil menjual kain tenun itu dia menabung untuk uang sekolah anak-anak dan kehidupan sehari-hari. Ada juga kain tenun yang ditukarkan dengan ternak seperti babi, kuda dan kerbau.
Rupanya Hanis tertarik dengan cara mamanya berbisnis. Saat berlibur ke Sumba, Hanis membeli kain-kain, tape recorder dan sepatu sekolah untuk dijual lagi di Waingapu. Keuntungan dari bisnis saat liburan ini dia pakai untuk membeli tiket kapal. Bahkan, Hanis bisa menyisihkan sedikit untuk keperluan sekolah dan kuliah adik-adiknya.
Kadang, Hanis juga mengirimkan barang dari Bali, dan adik-adiknya yang berkeliling menjualnya ke tetangga atau keluarga.
“Kalau Kris, dia ke Kupang. Lulus di Fakultas Hukum Undana. Dia tes lagi dan lulus juga di APDN. Saya marah, kenapa harus tes di dua tempat? Bikin kasih habis uang saja. Waktu itu pas Umbu Hanis datang libur. Dia yang jelaskan ke saya kalau lulus di dua tempat sekaligus itu tidak gampang. Umbu Hanis yang kasih dingin saya punya hati. Dia bilang, jangan khawatir. Pasti ada jalan,” kenang Mama Rambu Hoy.
Seperti biasa kata Mama Rambu Hoy, Hanis selalu bisa memberi jalan keluar, terutama yang menyangkut pembiayaan. Bahkan saat ketiga anaknya yakni Kris, Umbu Rihi dan Yana sama-sama sedang kuliah, Hanis sangat berperan membantu ibunya.
“Waktu Umbu Hanis lulus kuliah, ringan sudah beban saya. Dia bisa bantu saya urus dia punya adik-adik,” kata Mama Rambu Hoy.
Perempuan Harus Mandiri
Sebagai seorang janda beban Mama Rambu Hoy bisa saja lebih ringan jika ia menikah lagi. Secara sosial pun akan mudah baginya berinteraksi tanpa canggung. Setidaknya sepi dari pergunjingan orang. Secara ekonomi, suami yang baru pun bisa memberi topangan.
Tetapi keputusan Mama Rambu Hoy sudah bulat. Dia memilih tidak menikah lagi. Dia fokus mengurus pendidikan anak-anaknya.
Keputusan itu membuatnya tidak canggung bila berkunjung ke kampung suaminya untuk ikut upacara adat. Satu hal yang selalu ia pegang adalah, ia tidak boleh menginap. Ia harus selalu kembali ke rumah. Karena di rumah ada anak-anak. Dan anak-anak adalah simpul untuk tekadnya memilih tidak menikah.
“Ada juga yang punya niat, tapi kita kunci ini hati kuat-kuat. Saya selalu ingat anak-anak. Kalau ada acara di kampung (Lambanapu), saya tidak menginap. Saya tetap pulang ke Wara. Biar jalan kaki juga,” Mama Rambu Hoy tertawa kecil. Padahal jarak antara Wara dan Lambanapu sekitar 6 kilometer.
Bagaimana cara dia menghindari godaan lelaki yang ingin menikahinya? Anak-anaknya bercerita, kalau ada tamu pria yang berkunjung ke rumah, Mama Rambu Hoy mengajak semua anaknya ikut menemui tamu yang datang. Meskipun tidak semua tamu pria yang berkunjung bermaksud meminangnya, tapi Mama Rambu Hoy selalu membentengi diri dengan cara seperti itu.
Karena itu, Mama Rambu Hoy berkesimpulan bahwa anak perempuan harus mandiri. Supaya ia bisa menentukan nasibnya sendiri. Tidak terpaksa menyerah oleh situasi dan ketidakberdayaan. Pengalaman pribadinya menjadi cerminan bagi anak-anak perempuannya.
Meskipun kelak seorang perempuan akan menikah dan ikut suaminya, namun setidaknya kata Mama Rambu Hoy, ia punya modal pengetahuan yang cukup. Selain keterampilan, ya pendidikan.
Itulah yang membuatnya menolak keras saat Rambu Hala, anak keduanya, yang masih di bangku kelas 6 SD dipinang oleh kerabat suaminya.
Di Sumba ada kebiasaan “mengawinkan” dan membayar belis bahkan ketika anak masih dalam kandungan.
“Memang kita orang Sumba, sudah ada hubungan keluarga sehingga anak laki-laki dari saudara perempuannya Bapa bisa ambil (memperistri) saya punya anak perempuan. Tapi waktu itu saya tidak mau. Ini anak masih sekolah,” kata Mama Rambu Hoy.
Demikian pula ketika Rambu Hala lulus SMP, Mama Rambu Hoy tetap bersikeras tidak menerima pinangan tersebut. Ketika Rambu Hala sudah lulus SPG, barulah urusan adat dilakukan.
“Setelah urusan adat dan nikah gereja selesai, baru Rambu Hala saya ijinkan ikut suami,” ujarnya. Kini Rambu Hala adalah kepala sekolah sebuah SD di Sumba Timur.
Beberapa bulan setelah pengembumian suaminya, Mama Rambu Hoy diajak bicara oleh keluarga besar tentang nasib anak-anaknya yang masih kecil dan sedang bersekolah. Ada yang menawarkan diri untuk merawat satu atau dua anak agar beban hidupnya agak ringan. Namun dia menolak permintaan mereka dengan santun.
“Jangan karena sudah janda orang mau anggap remeh. Kita harus tunjukkan bahwa kita bisa mandiri, bisa urus anak, bisa urus keluarga. Tentu bukan karena kita hebat, tapi semua karena belas kasih Tuhan,” ujarnya.
Kini Mama Rambu Hoy dapat meraih impiannya. Anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan formal dengan baik. Berikut adalah daftarnya:
- Margaretha Anggung Praing, A. Ma. Pd.- Guru (Meninggal dunia tahun 2010)
- Rambu Hala Anggung Praing, S. Pd. – Kepala Sekolah SD Inpres Kawangu 1 Sumba Timur.
- drh. Yohanis Anggung Praing, M. Si. –Staf Ahli Bupati Sumba Timur.
- Drs. Kristofel Anggung Praing, M. Si.- Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Sumba Timur.
- drh. Umbu Rihi Meha Anggung Praing, M. Si. – Kepala Dinas Peternakan Sumba Barat Daya.
- Mariana Anggung Praing, S.TP. – Kepala Bidang Perencanaan Kawasan Transmigrasi, Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Sumba Timur.
- Rambu Ana Anggung Praing, S. Pi., M. Si. –Staf Bappeda Sumba Timur
- Darius Umbu Djama Anggung Praing, S. STIP., MA. – Kasubag Perencanaan Pada Badan Kesbangpol Sumba Timur.
Peringatan Keras Melalui Hadiah
Setelah delapan anaknya menamatkan sekolah dan telah bekerja, tidak berarti visi tentang pendidikan bagi Mama Rambu Hoy sudah selesai. Dia masih melanjutkan didikan kerasnya kepada cucu-cucunya. Hanya saja lebih lunak.
Saat ada cucunya yang mau melanjutkan kuliah ke luar Sumba, jika laki-laki maka akan dihadiahi kain tenun yang indah. Yang perempuan akan mendapatkan sarung tenun yang tak kalah indahnya. Tentu saja dengan nasihat yang mirip dengan nasihat kepada para orang tua mereka dahulu.
Demikian pula saat mendengar kabar cucunya yang akan tamat kuliah, Mama Rambu Hoy sudah menyiapkan kain atau sarung tenun sebagai apresiasi atas mereka.
Saat ini Mama Rambu Hoy menetap di Lambanapu, di rumah adat mereka. Di masa tuanya, dia selalu menyempatkan diri mengikuti acara wisuda cucu-cunya. Sudah enam orang cucu yang lulus kuliah.
Mama Rambu Hoy tidak sendiri. Ada banyak perempuan janda di Sumba yang dengan tegas menolak tradisi dan memilih hidup sendiri membesarkan anak-anaknya setelah sang suami meninggal. Mereka berkontribusi besar terhadap pendidikan anak-anak Sumba.
Selamat jalan, mama Rambu Hoy Mila Meha 🌹
