Hana Atahau, Penyandang Disabilitas yang Mencerdaskan Anak Sumba

Tulisan ini disadur ulang dari buku Perempuan (Tidak) Biasa, karya Martha Hebi
Di Sumba, penyandang disabilitas1) belum mendapatkan perhatian yang serius. Jika mengacu pada Undang undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, maka cukup banyak bukti pengabaian terhadap para penyandang disabilitas.
Ada 4 jenis disabilitas menurut UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. 1) Penyandang disabilitas fisik adalah terganggunya fungsi gerak antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegi, celecral palsy akibat stroke, kusta dan orang kecil. 2) Penyandang disabilitas intelektual adalah gangguan fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata rata, antara lain lambat belajar, disabilitas grahita atau down syndrome.3) Penyandang disabilitas mental adalah gangguan fungsi pikir, emosi dan perilaku. Ini mencakup psikososial, autis. 4) Penyandang disabilitas sensorik adalah ternganggunya salah satu fungsi panca indra, antara lain disabilitas rungu, wicara, netra. Selain itu disebutkan pula ada penyandang disabilitas ganda atau multi, dimana ada 2 atau lebih disabilitas.
Beberapa hal yang dapat dilihat kasat mata natara lain fasilitas pelayanan publik yang tidak mudah diakses oleh penyandang disabi litas. Pembangunan kantor-kantor pemerintah, perbankan, sarana transportasi serta layanan publik lainnya belum mempertimbangkan keragaman warga negara. Rumah ibadah pun masih sangat sedikit yang mendesain bangunannya dengan memperhatikan kemudahan bagi penyandang disabilitas. Selain itu, tekanan sosial yang dialami oleh penyandang disabilitas cukup kuat.
Masih banyak yang mempercayai bahwa seseorang dengan disabilitas itu karena kutukan, melanggar larangan adat, orang tua melakukan kegiatan tertentu saat anaknya dalam kandungan. Kekerasan dan diskriminasi dialami oleh penyandang disabilitas namun jarang terpublikasikan. Dalam beberapa pelatihan bagi forum bagi penyandang disabilitas yang pernah saya fasilitasi, banyak testi moni peserta yang menunjukkan betapa diskriminasi dan kekerasan berlapis yang dialami penyandang disabilitas. Misalnya pengakuan seorang perempuan penyandang disabilitas daksa, orang tuanya yang tidak mau mengajaknya dalam pesta adat atau kegiatan di luar rumah. Orang tuanya malu memiliki anak dengan disabilitas yang disandangnya. Ada kasus pelecehan seksual yang di- alami oleh perempuan penyandang disabilitas mental, namun tidak ada proses hukum ataupun perlindungan terhadap korban.
Melawan Stigma Stigma lain yang melekat kuat dalam pola pikir dan tindakan maskarakat, penyandang disabilitas dianggap lemah dan tidak mampu sehingga perlu diberi bantuan. Jadi layanan, peluang atau pembe rian untuk penyandang disabilitas seringkali masih berbasis rasa iba, kasihan bukan berdasarkan kesamaan hak asasi manusia.
Hana Kahi Atahau (64 tahun) menolak stigma ini! Mama Hana, demikian dia disapa, adalah penyandang disabilitas daksa dari Waingapu, Sumba Timur. Lebih dari 30 tahun dia membuk tikan bahwa penyandang disabilitas dapat mandiri dengan ketrampilan dan kapasitas yang dimilikinya. Sangat mudah untuk berjumpa dengan Mama Hana. Jika melaku - kan perjalanan di kota Waingapu, Anda pasti akan berjumpa dengannya. Mama Hana bekerja setiap hari, kecuali hari Minggu. Dia menjajakan kemucing, sapu lantai, tas anyaman dari lontar dan beberapa kerajinan lain karya tangannya. “Setiap hari saya keliling untuk jualan. Keluar dari rumah jam 9 pagi, kadang jam 10. Nanti jam 5 sore baru pulang rumah,” tutur Mama Hana.
Setiap hari dia menyusuri jalan-jalan di kota Waingapu, paling tidak 3-5 kilometer sehari. Tangan kanannya membawa barang jualannya, tangan kirinya memegang tongkat yang digunakan untuk menyanggah tubuhnya. “Malam hari saya buat kemucing atau merapikan anyaman. Setiap hari barang harus ada, kalau kosong repot sudah. Kami tidak bisa makan,” kata Mama Hana sambil tertawa lepas. Dari menjual keraji- nan ini, biasanya laku sejumlah Rp. 50,000 – Rp. 100,000 setiap hari. Kadang lebih. Uang ini jarang sekali bisa “menginap” di dompetnya. Langsung dipakai untuk membeli beras, sayur dan kebutuhan sehari-hari. Ada 8 anak sekolah yang tinggal bersamanya. Enam orang SMA, 1 orang SD dan 1 anak TK. Juga tinggal bersamanya, ibu kandungnya yang berusia sekitar 90 tahun. Ibu kandungnya yang memiliki keahlian menganyam ikut membuat tas, mbola hapa (wadah tempat sirih pinang orang Sumba) serta anyaman lainnya.
“Saya mulai berjualan sejak tahun 1987. Saya dikirim oleh Dinas Sosial untuk ikut kursus di Ujungpandang (Makassar) tahun 1981. Bulan Maret tahun 1986 saya pulang ke Sumba. Saya beruntung bisa punya ketrampilan, jadi bisa hidup mandiri,” ungkap perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan dari Komunitas Hambila atas ke- gigihannya memperjuangkan hidupnya dan anak-anak sekolah yang tinggal bersamanya. Di Makassar, dia berlatih menjahit pakaian, membuat sapu dari sabut kelapa, kemucing dan aneka ketrampilan lainnya.
Cita-cita menjadi penjahit kandas, karena tidak punya mesin jahit. Dia akhirnya fokus membuat kemucing, anyaman dan sapu sabut kelapa. Sapu sabut kelapa pun tidak dilanjutkannya. Usianya makin bertambah, sedangkan membuat sapu dari sabut kelapa membutuhkan tenaga yang kuat. Sabut kelapa harus dirapikan dengan menggunakan palu. Makin berat makin bagus. Sekembali dari Makassar, Mama Hana mendapatkan kaki palsu. Dia memakainya namun saat mengandung anak pertamannya, Mama Hana merasa kesulitan dan melepasnya. Pasca melahirkan, dia ingin memakai nya lagi namun tidak cocok akhirnya dia kembali memakai tongkat. Tiga tahun lalu Mama Hana pernah dikirim ke Kupang untuk me- masang kaki palsu. Namun tidak lama, karena dia tidak merasa nyaman, akhirnya tidak dipakainya. Orang Tua Tunggal Saat kursus di Makassar, Mama Hana berjumpa dengan kawan- kawannya penyandang disabilitas dari kawasan timur Indonesia. Ada satu kawannya dari Ambon yang dekat dengannya. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.
“Saya merasa kami dua punya kesamaan. Kami sama-sama belajar menjahit. Kalau saya, kaki kiri diamputasi saat umur 4 tahun, kalau dia saat umur 4 tahun panas tinggi dan akhirnya kakinya kecil sebelah,” kenang Mama Hana. Mama Hana bercerita, saat berusia 4 tahun kaki kirinya dipagut ular di kebun di kampungnya Tanarara, Kecamatan Matawai Lapawu. Jaraknya 70 kilometer dari Waingapu, ibu kota kabupaten. Awalnya ditangani dukun, namun dalam waktu seminggu tak kunjung ada peru bahan, malah membiru dan dia mengerang kesakitan sepanjang hari. Akhirnya orang tuanya memutuskan membawanya ke Puskesmas Paberiwai, sekitar 20 kilometer dari rumahnya. Untuk menyelamatkan jiwanya, kaki kirinya harus diamputasi.
“Saya dipikul dengan tandu ke Paberiwai. Kaki saya akhirnya di amputasi. Saya tidak pernah sekolah. Sampai di Ujungpandang baru saya ikut paket A.” Jalinan cintanya dengan pemuda Ambon tidak mendapat restu keluarga. Saudara laki-lakinya tidak setuju. Mama Hana pulang ke Sumba melahirkan anak laki-lakinya pada Juni 1986 dan membesarkan seorang diri. “Dia sudah lulus kuliah dan sudah menikah. Ini anaknya,” ujar Mama Hana menunjuk anak perempuan berusia 3 tahun yang tinggal bersamanya. Mendidik Anak Bangsa Anak yang lahir dari rahimnya hanya satu orang, namun dia punya lebih dari 30 anak yang lahir dari hatinya.
“Lebih dari 30 anak yang pernah tinggal dengan saya sejak saya punya anak. Mereka anak sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA. Ada 4 orang yang kuliah, tambah saya punya anak jadi 5 orang yang kuliah.” Mama Hana membiayai sekolah anak-anak ini dari hasilnya ber- jualan kerajinan tangan. Orang tua anak-anak ini membantu uang sekolah. Sedangkan kebutuhan lainnya seperti makan minum sehari hari, sabun, listrik air, biaya foto kopi dan kebutuhan tambahan sekolah ditanggung Mama Hana. Jika orang tua anak-anak kesulitan membayar uang sekolah, Mama Hana akan menanggulanginya. “Anak-anak yang tinggal dengan saya dari kampung saya, Tanarara. Jarak rumah mereka dengan sekolah jauh. Ada yang 10 kilometer. Jadi saya tampung mereka di sini.” Rumah sederhana tempat tinggalnya bukanlah milik pribadinya. Rumah ini milik kerabatnya yang dalam waktu dekat akan dibongkar dan dibangun baru.
Mama Hana sesungguhnya gelisah karena tidak tahu akan tinggal di mana. Anak-anak yang tinggal bersama Mama Hana turut membantunya, memasak, mencuci, membersihkan rumah dan membuat kerajinan tangan. Jika orang tua mereka panen di kampung, Mama Hana akan dikirimi padi. Ini menjadi modal untuk hidup bersama. Jika padi habis, Mama Hana harus membeli beras seperti biasanya. Mengapa dia gigih menyekolah anak-anak? “Pendidikan yang akan buat masa depan anak-anak baik. Saya dulu tidak sempat sekolah. Saya bilang ke anak-anak, lihat saya dengan keadaan saya, saya tetap bekerja. Jadi kalian harus ingat untuk sekolah dengan tekun,” Mama Hana merasa bersyukur karena anak-anak ini mendengarkan nasihatnya. Meskipun, lanjut Mama Hana, ada juga yang kepala batu (melawan), suka bolos. Namun tidak berlangsung lama. Nase hatnya dengan nada tenang meluluhkan gejolak muda anak-anaknya.
“Banyak yang bilang sama saya ‘Kenapa mau tampung banyak orang, padahal kondisi saya begini, untuk urus diri saja saya sulit, kok repot urus orang lain’. Saya tidak marah. Saya bilang, ini Tuhan punya rencana. Tuhan pakai saya untuk masa depan anak-anak ini.” Mama Hana mengakui tidak sedikit orang yang bertanya demikian. Pernah ada tetangganya yang mengeluh padanya, mereka suami istri punya penghasilan namun merasa kesulitan juga untuk membiayai sekolah anak dan kehidupan sehari-hari.
Mama Hana merasa beruntung karena dia mendapatkan dukungan dari Dinas Sosial dan pemerintah setempat. Selain dikirim untuk kursus ke Makassar, Mama Hana mendapatkan beras dari kelurahan. “Saya dapat beras dari kelurahan. Dulu harus bayar Rp. 105,000 setiap kali ambil, sekarang gratis. Sekarang saya dapat 10 kilogram. Anak-anak harus makan tiga kali sehari. Penting sarapan supaya bisa belajar dengan baik,” ujarnya. Mama Hana bercerita dia tidak pernah memanggil anak-anak untuk tinggal dengannya. Mereka datang dan minta untuk tinggal bersamanya. Pernah ada anak kerabatnya dari kampung berusia 5 atau 6 tahun berkunjung ke rumahnya bersama orang tuanya. Anak ini tidak mau pulang. Oleh orang tuannya si anak dipaksa pulang ke kampung. Namun tiba di kampung, anak ini menangis dan minta tinggal dengan Mama Hana
“Jadi mereka datang sendiri, saya tidak bisa tolak. Saya sayang mereka. Ada 5 anak yang tinggal dengan saya sejak kecil.” Setiap tahun selalu ada anak sekolah yang tinggal dengannya. Seisi rumah bisa mencapai belasan orang. Ini yang tinggal tetap. Setiap bulan selalu ada keluarga atau kerabat dari kampung yang ada urusan di kota ikut menginap di rumahnya. Kadang 2 orang, kadang 4 orang pernah juga lebih.
“Saya heran juga, selalu ada rejeki yang Tuhan kirim. Ada tukang ojek yang muat saya kalau pulang bajual. Saya mau bayar tapi dorang tidak terima. Penjual ikan juga sering kasih. Saya mau bayar mereka tidak mau. Mereka bilang sama ‘Mama pembawa rejeki’.”
Mama Hana sesungguhnya tidak ingin orang memberinya hanya karena iba. Dia selalu berusaha membayar. Namun orang-orang yang memberinya selalu mengatakan mereka kagum karena dia seorang pekerja keras. Bukan kasihan. Mama Hana bercerita, pernah suatu waktu saat berjualan di dekat pantai, para nelayan sedang membentangkan terpal untuk menghitung ikan hasil menjala. Dia ingin membeli, namun para nelayan menolak uangnya, mereka memberi dia satu kantong plastik besar. Keesokan harinya, saat kembali berjualan di tepi pantai, para nelayan ini datang bercerita, bahwa setelah Mama Hana pergi, ikan mereka terjual habis dengan harga Rp. 60,000,000.
Mama Hana masih terus berjuang untuk pendidikan anak-anak Sumba dari hasil kerjanya kerasnya. Kegigihannya dan keikhasannya menjadi warna tersendiri di tengah “sepinya” perhatian, kerasnya stigma terhadap penyandang disabilitas di Sumba. Mama Hana dengan jalan hidupnya ikut meramu masa depan Anak Sumba.
Selamat jalan, Mama Hana 🌹
