Riwayatmu, Puan: Salomi Rambu iru

Tulisan ini kami sampaikan dalam acara festival Pemikiran Perempuan di Yogyakarta 18-20 Juli 2025. SOPAN Sumba (Martha Hebi dan Yustin Dama Dia)mengisahkan perjalanan hidup dan gerakan Mama Salomi Rambu Iru dalam sesi Riwayatmu Puan. Acara ini diselenggarakan oleh Sekolah Pemikiran Perempuan
Salomi Rambu Iru adalah perempuan Sumba kelahiran Waikabubak pada tanggal 6 Maret 1955. Ia memiliki 3 bersaudara 2 perempuan dan satu orang laki -laki, kedua saudaranya meninggal pada usia masih muda. Salomi Rambu Iru dimasa kecil berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia suka mendengar pembicaraan adat dan hal -hal yang berkaitan dengan perempuan. Pada usia 7 tahun Ia masuk sekolah di SD Parewa Tana pada tahun 1962 -1968, SMP Kristen Wailolung atau saat ini yang telah berubah nama menjadi SMP Kristen Waibakul Pada tahun 1968-1971 dan SPG Laikaruda pada tahun 1972 -1974. Mama Salomi memiliki 3 orang anak yaitu satu orang perempuan dan 2 orang laki -laki.
Mama Salomi sendiri adalah ‘korban’ tradisi, meskipun bukan korban kawin tangkap, dirinya dipaksa menikah dengan anak tantenya atas dasar keinginan orang tuanya. Dia dibelis sejak bayi. Lulus dari SPG, Mama Salomi bekerja di kantor Pemda Sumba Barat. Namun pada tahun 1976, karena harus menikah dengan anak tantenya, Mama Salomi meninggalkan pekerjaannya. Padahal, ia sudah diangkat sebagai pegawai Pemda. “Dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak bisa jadi ‘tuan’, dia hanya di dapur saja. Akhirnya saya pulang ke kampung untuk urus rumah tangga,” ungkapnya pelan. Mama Salomi mengabdikan diri sebagai guru Sekolah Minggu juga pengurus PKK di kampungnya.
Pada tahun 1992, Yayasan Wahana Komunikasi Wanita (YWKW) terbentuk di Waihibur. Mama Salomi diundang untuk membangun diskusi tentang isu perempuan. Dalam yayasan ini ada kelompok kerja (pokja) yang khusus mengidentifikasi isu kekerasan terhadap perempuan dan mencari solusinya. Semangat Mama Salomi kembali bergelora.
“Saya senang sekali ada wadah di mana kita bisa bicarakan hal-hal yang dianggap biasa oleh masyarakat, tapi sebenarnya bukan hal biasa karena menyangkut kekerasan terhadap perempuan,” ujar Mama Salomi.
Pada ruang itulah, ia mulai menyampaikan isu-isu tentang tradisi yang masih melanggengkan kekerasan terhadap perempuan, namun dianggap hal biasa di masyarakat. Hanya saja, menurutnya, belum ada tanggapan serius. Mama Salomi tidak tinggal diam. Dia terus membawa isu itu dalam perbincangan sehari-hari dengan rekan perempuan, tokoh gereja atau siapa saja yang dia rasa bisa diajak berdiskusi. Lama-kelamaan satu-dua orang mulai mendengar dan mendukungnya. Kepada mereka ini Mama Salomi terus membangun diskusi dan memberi penguatan. Tak peduli ia dicap aneh bahkan gila karena melawan arus.
Tahun 1998, Pokja Perempuan YWKW dikukuhkan menjadi Forum Perempuan Sumba (Foremba) yang mempunyai kekuatan hukum. Mama Salomi dipilih menjadi direktur. Gerakannya mulai lebih leluasa karena ada lembaga yang menaunginya secara resmi. Ia giat membangun jejaring. Tidak hanya di Waihibur, tetapi sedaratan Pulau Sumba. Sosialisasi tentang penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin gencar dilakukan.
Foremba menarik perhatian masyarakat. Kesadaran warga mulai terbuka. Sebagai komunitas yang secara khusus berkecimpung dengan isu perempuan, informasi mulai mengalir ke Foremba. Terutama warga melaporkan tentang KDRT dan yappa maradda atau Kawin Tangkap. Meskipun akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan, kehadiran Foremba sudah memberikan dampak positif.
“Orang mulai mempersoalkan yappa maradda. Juga kekerasan dalam rumah. Meskipun diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi ini sudah langkah maju buat Foremba,” kata Mama Salomi.
Yappa marada yang dikenal dengan kata Kawin Tangkap saat ini, adalah praktik dalam tradisi Sumba di mana perempuan ditangkap oleh segerombolan laki -laki untuk dijadikan istri. Dalam proses kawin tangkap perempuan dipegang -pegang pahanya, bokongnya, payudaranya dan dicium. Ini merupakan bagian dari penundukan perempuan melalui tubuhnya sehingga perempuan merasa malu dan tidak berdaya.
Istilah Kawin Tangkap diperkenalkan oleh Mama Salomi. Meskipun banyak menentang istilah ini, namun menurut Mama Salomi bahwa kenyataannya perempuan ditangkap seperti binatang untuk dijadikan istri.
“Biasanya kalau perempuan kalau sudah di-yappa, dia akan dikasih masuk ke kamar dipersatukan dengan laki-laki yang mau ambil dia jadi istri. Kalau melawan maka akan diikat kaki tangannya. Ada yang langsung diperkosa oleh pelaku. Dorang (mereka) bilang biar dia ‘jinak’ dulu. Dorang anggap perempuan itu seperti binatang betul.”kata Mama Salomi
“Pernah ada juga perempuan ketika ditangkap langsung dimasukkan dalam kamar diikat kaki tangannya dan diperkosa oleh calon suaminya” ujar mama Salomi.
Laporan tidak hanya datang dari sekitar desanya di Sumba Tengah, namun juga dari Kodi (di Kabupaten Sumba Barat Daya), Lamboya (Sumba Barat) dan Sumba Timur. “Kami pernah kasih turun perempuan yang dibawa lari ke Desa Mangganipi di Kodi. Ada juga peristiwa perempuan dari Loli, di yappa oleh orang Lamboya. Kami kasih turun juga. Kalau di Sumba Timur, kasus KDRT. Kami bangun hubungan baik dengan pihak kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Saya juga bersyukur ada undang-undang dan aturan lainnya. Jadi, kami bisa bilang ke pelaku bahwa dia sedang melawan hukum,” ujarnya. Semangat mama Salomi tidak pernah pudar walapun tengah malam, hujan dan kesibukan lain ketika mendengar ada kasusus Ia tetap siap untuk menjemput korban dan melaporkan kepihak kepolisian, Salomi merasa lebih semangat ketika suaminya yang biasa disapa Markus terus mendukungnya dan ikut mengantar kemana saja Ia pergi.
Saya sudah mendengar nama Foremba dan tentunya Mama Salomi sejak tahun 2014. Waktu itu terjadi praktik kawin tangkap yang menimpa gadis 18 tahun tetangga saya. Kemudian dilaporkan ke Mama Salomi. Mama Salomi melapor ke polsek Katiku Tana akhirnya korban berhasil dikembalikan walaupun pelaku tidak dikenakan hukuman penjara. Pada tahun 2018 saya mulai intens bertemu dengan mama Salomi dan tahun 2020 -2022 ketika terjadi praktik kawin tangkap yang viral, mama Salomi juga aktif advokasi.
Langkah Mama Salomi tidak mulus. Ia seringkali disindir, mendapat umpatan, bahkan diancam. Apalagi jika pelaku dan keluarganya ia kenal. “Yang berat itu kalau ternyata pelaku adalah keluarga sendiri. Saya dicap melawan mereka. Kita orang Sumba ini di mana-mana ada keluarga. Ditambah lagi karena hubungan kawin-mawin, maka bisa saja kita kenal itu orang yang bikin masalah,” ujar Mama Salomi.
Menurut Mama Salomi, kasus yappa maradda menjadi rumit ketika adat sudah masuk ke dalamnya. Mediasi dan intervensi hukum sering tidak diindahkan.
“Kalau seorang perempuan korban yappa maradda sudah masuk ke rumah adat keluarga laki-laki pelaku, dan si korban sudah disambut dengan ritual adat, urusannya menjadi sulit. Ada berbagai aturan adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat di sini,” ujarnya.
Saya (Martha Hebi) mengenal Mama Salomi sejak tahun 2005. Waktu itu dia bercerita tentang Kawin Tangkap. Saya sendiri belum pernah menyaksikan praktik Kawin Tangkap. Dari cerita Mama Salomi, saya mendapatkan gambaran yang spesifik dan detail tentang proses Kawin Tangkap. Bersama Tim SOPAN Sumba, kami mendokumentasikan pengalaman Mama Salomi dalam mengadvokasi korban Kawin Tangkap dalam Buku Perempuan (Tidak) Biasa di Sumba Era 1965-1998. Dia merasa sendiri, karena sebagian besar masyarakat umum, tokoh adat, kelompok terpelajar seperti staf pemerintah, staf LSM dan pemuka agama masih melihat praktik sebagai bagian dari budaya.
Visual Kawin Tangkap baru dikenal publik, termasuk saya, pada Desember 2019. Waktu itu ada kasus Kawin Tangkap yang sempat direkam oleh warga dengan menggunakan telpon genggam dan menjadi viral di media sosial.
Riwayatmu Puan
Juli 2025 SOPAN Sumba(Martha Hebi dan Yustin Dama Dia mengunjungi Mama Salomi. Dia sedang dalam kondisi sakit berat. Dia kesulitan berbicara, mengalami gangguan syaraf. Dia menggengam tangan kami berdua, dia merasa gelisah karena menurutnya tidak ada lagi yang melanjutkan advokasi untuk korban Kawin Tangkap. Kami menyampaikan pada Mama Salomi, inisiatif dan gerakannya telah kami lanjutkan selama ini. Kami bercerita bahwa korban yang pernah didampinginya pada tahun 2017, telah terlibat aktif sebagai narasumber dalam pendidikan pendidikan pencegahan praktik Kawin Tangkap. Kami juga bercerita bahwa saat ini para penyintas Kawin Tangkap sudah terorganisir dalam organisasi kecil. Mereka membagikan kisah kelam mereka sebagai proses menyembuhkan luka dan membangun solidaritas di antara mereka.
Mama Salomi tersenyum. Kami memeluknya. Matanya basah.
“Terima kasih, saya lebih tenang sudah sekarang,” ujarnya lirih. Kami pamit dan mencium hidungnya.
Selamat jalam Mama Salomi, kami akan merawat nyala cintamu. SOPAN Sumba
